Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

PENELITIAN TINDAKAN PARTISIPATORIS (PARTICIPATORY ACTION RESEARCH)

PENELITIAN TINDAKAN PARTISIPATORIS (PARTICIPATORY ACTION RESEARCH)  



Penelitian Tindakan Partisipatoris sebagai Bagian dari Penelitian Tindakan 

Penelitian tindakan muncul dari gagasan Kurt Lewin sebagai suatu tindakan untuk menanggulangi dinamika sosial masyarakat di Amerika pada tahun 1940-an. Penelitian ini dikembangkan Lewin sebagai suatu cara untuk melakukan sindiran terhadap berkembangnya sistem sosial yang kapitalis. Cita-cita Lewin untuk melakukan perubahan sosial masyarakat kemudian berkembang ke belahan dunia lain, terutama di dataran Eropa, Amerika Latin dan Australia. Stringer (dalam Yustiana, 1999) menyatakan bahwa penelitian tindakan merupakan suatu penelitian yang bersifat kolaboratif dalam melakukan proses penelitian yang sistematis untuk memecahkan permasalahan. 

Menurut Lewin (dalam Suharso, Tanpa Tahun: http://staff.uny.ac.id), penelitian tindakan memiliki ciri yang menonjol yaitu pihak sasaran penelitian mempunyai tanggung jawab terhadap tindakan ke arah perubahan serta mengevaluasi cara/strategi dalam praktik penelitian. Kemmis & Taggart (2007) membagi penelitian tindakan ke dalam beberapa jenis penelitian, di antaranya. 


1. Penelitian Tindakan Partisipatoris

Penelitian tindakan partisipatoris dianggap sebagai alternatif dalam penelitian sosial masyarakat yang sering dikaitkan dengan perubahan sosial. Penelitian ini memiliki komitmen kuat untuk mengembangkan aspek sosial, ekonomi, dan politik yang tanggap terhadap kebutuhan masyarakat. Dalam penelitian ini, suatu proyek penelitian dilakukan secara kolaboratif dengan masyarakat, analisis berbasis masalah-masalah sosial masyarakat, dan berorientasi pada tindakan masyarakat (Kemmis & Taggart, 2007). 

2. Penelitian Tindakan Kritis 

Penelitian tindakan kritis dianggap sebagai suatu penelitian yang berkomitmen kuat untuk melakukan analisis sosial dalam tradisi kritis ilmu sosial yaitu dengan mengungkap kelemahan dan ketidak adilan di dalam masyarakat. Penelitian ini juga mengutamakan tindakan untuk memperbaiki keadaan. Oleh karena itu, penelitian ini dianggap sangat mewakili penelitian tindakan pendidikan karena memiliki komitmen untuk memperbaiki keadaan (Kemmis & Taggart, 2007). 


3. Penelitian Tindakan Kelas 

Penelitian tindakan kelas diartikan sebagai suatu studi yang menggunakan interpretasi kualitatif dalam penyelidikan dan pengumpulan data oleh para guru guna melakukan refleksi diri serta melakukan penilaian tentang cara meningkatkan praktik pembelajaran yang dilakukan. Penelitian tindakan kelas dianggap kurang bermanfaat dan tertinggal dari pergerakan pendidikan itu sendiri yang sering menjadi napas sejarah perubahan sosial masyarakat (Kemmis & Taggart, 2007). 

Sejarah Munculnya Penelitian Tindakan Partisipatoris

Munculnya penelitian tindakan partisipatoris tidak terlepas dari sejarah action research (penelitian tindakan) sebagai induk dari penelitian ini. Semua berawal dari gagasan Lewin dalam upaya untuk melakukan perubahan sosial masyarakat Amerika di era tahun 1940-an yang telah mengalami dinamika sosial. Dua hal penting menurut Lewin (dalam Suharso, Tanpa Tahun: http://staff.uny.ac.id) adalah gagasan mengenai keputusan kelompok dan komitmen untuk melakukan perbaikan. Ide Lewinian ini terus berkembang hingga akhir tahun 1990-an. Dalam perkembangannya tersebut, penelitian tindakan yang dikembangkan di satu negara dapat berbeda dengan negara lain, namun prinsip-prinsip dasarnya tetap sama. 


Perkembangan penelitian itu sendiri kemudian memunculkan suatu dialog di antara beberapa kalangan peneliti untuk melakukan kritik terhadap modernitas dan neocapitalist. Dari bagian dialog tersebut kemudian muncullah ide penelitian tindakan partisipatoris. Penelitian tindakan partisipatoris lahir dengan tujuan untuk memberikan kerangka acuan pemahaman dan kritik itu sendiri. Penelitian tindakan partisipatoris (dalam Creswell, 2012: 582) “memiliki orientasi sosial dan kemasyarakatan serta penekanan pada penelitian yang berkontribusi terhadap emansipasi atau perubahan masyarakat”. Penelitian tindakan pastisipatoris ini terus berkembang dalam ilmu sosial dan juga digunakan dalam ilmu pendidikan karena sifatnya yang humanistik dan dapat diterapkan secara langsung dalam kehidupan nyata. Sifat penelitian yang humanistik ini memunculkan suatu interaksi partisipatif di mana sasaran penelitian juga sebagai rekan penelitian (Hanurawan, 2012). 

Definisi Penelitian Tindakan Partisipatoris 

Penelitian tindakan partisipatoris menurut Whyte (dalam Danley & Ellison, 1999) merupakan metode penelitian yang berkaitan dengan organisasi penilaian diri, di mana subyek penelitian berpartisipasi secara kolaboratif dengan peneliti profesional dalam seluruh proses penelitian. Bradbury & Reason (dalam Foeday, 2011) mendefinisikan penelitian tindakan partisipatoris sebagai suatu metode penelitian non-tradisional di mana suatu penelitian dilakukan bukan pada orang. Namun, mereka melihat penelitian ini sebagai penelitian yang didasarkan pada pengalaman hidup, dikembangkan dalam suatu kolaborasi, membahas masalah-masalah yang signifikan, bekerja dengan orang lain bukan hanya studi, serta mengembangkan cara-cara baru dalam melihat dan menafsirkan dunia. Pernyataan ini senada dengan Lofman, Pelkam & Pieth (dalam Foeday, 2011) yang menyatakan bahwa penelitian tindakan partisipatoris merupakan paradigma baru penelitian yang melakukan penelitian dengan orang, untuk orang dan bukan pada orang. 


Penelitian tindakan partisipatoris berusaha untuk memahami dan meningkatkan kehidupan sosial di dunia dengan melakukan perubahan. Dalam hal ini, peneliti dan subyek penelitian berusaha untuk memahami dan memperbaiki praktik suatu tindakan di suatu lokasi dan situasi di mana mereka berpartisipasi. Penelitian ini secara langsung memberdayakan dan mengakibatkan orang-orang untuk meningkatkan kontrol terhadap hidup mereka (Baum, et.al, 2006). Dick (dalam Foeday, 2011: 2) mendefinisikan penelitian tindakan partisipatoris sebagai “penelitian dunia nyata yang mengadopsi dan memperkerjakan pendekatan kritis (termasuk refleksi kritis) dengan fokus pada peningkatan kehidupan manusia”.

Pendapat tersebut diperkuat oleh Ozanne & Saatcioglu (dalam Foeday, 2011) yang mempercayai bahwa tindakan penelitian dalam penelitian ini memiliki tujuan emansipasi dalam meningkatkan kesejahteraan manusia, oleh karena itu digunakanlah metode refleksi tindakan. Jadi, penelitian tindakan partisipatoris merupakan suatu metode penelitian kolaboratif yang mencoba membantu individu maupun kelompok untuk memahami diri, melakukan refleksi tindakan dan meningkatkan kontrol terhadap tindakan/hidup guna mendorong terjadinya perubahan dan peningkatan kesejahteraan. 

Ciri Khas Penelitian Tindakan Partisipatoris

Ciri yang paling khas dari proses penelitian tindakan partisipatoris yaitu urutan langkah kerjanya umumnya adalah siklus spiral refleksi diri sebagai berikut: 
1. perencanaan perubahan, 
2. bertindak dan mengamati proses dan konsekuensi dari perubahan, 
3. refleksi pada proses dan konsekuensi,
4. perencanaan ulang, 
5. bertindak dan mengamati lagi, 
6. refleksi lagi, dan begitu seterusnya (Kemmis & Taggart, 2007). 

Adapun tujuh ciri khas lainnya dari penelitian tindakan partisipatoris (dalam Kemmis & Taggart, 2007) adalah. 


1. Penelitian tindakan partisipatoris adalah sebuah proses sosial. 

Penelitian tindakan partisipatoris sengaja mengeksplorasi hubungan kenyataan bahwa menjadi individu tidak mungkin tanpa sosialisasi, dan sosialisasi tidak mungkin tanpa menjadi individu. Proses menjadi individu dan proses sosialisasi terus terbentuk pada individu dan hubungan sosialnya dalam semua aturan kehidupan di mana manusia berada. 


2. Penelitian tindakan partisipatoris melibatkan suatu partisipasi. 

Penelitian tindakan partisipatoris melibatkan orang-orang dalam memeriksa pemahaman, keahlian, nilai-nilai serta melakukan interpretasi terhadap tindakan mereka dalam konteks sosial maupun material. Dalam hal ini, terjadi suatu proses di mana semua orang dalam kelompok mencoba untuk memahami dirinya dan melakukan refleksi kritis terhadap tindakannya guna mengetahui bagaimana cara membatasi tindakan mereka. Penelitian ini merupakan penelitian diri sendiri, baik individual atau kelompok bukan penelitian yang dilakukan pada orang lain. 


3. Penelitian tindakan partisipatoris sangat praktis dan kolaboratif

Penelitian tindakan partisipatoris banyak melibatkan orang dalam memahami praktik-praktik sosial yang menghubungkan mereka dengan orang lain dalam proses interaksi sosial. Dalam hal ini, orang-orang berusaha untuk meningkatkan interaksi mereka dengan mengubah tindakan-tindakan yang tidak rasional, tidak produktif , tidak efisien, tidak adil dan tidak memuaskan. Penelitian partisipatif di sini berusaha bekerjasama dalam proses rekontruksi interaksi sosial mereka dengan merekontruksi tindakan yang membentuk mereka. 

4. Penelitian tindakan partisipatoris bersifat emansipasi

Penelitian tindakan partisipatoris bertujuan untuk membantu orang-orang untuk memulihkan dan melepaskan diri dari ketidakrasionalan, ketidakefisienan, ketidakadilan, dan ketidakpuasan terhadap suatu tindakan/interaksi dari suatu struktur sosial yang membelenggu pengembangan diri dan penentuan jati diri mereka. Dalam hal ini, partisipan diajak untuk mengeksplorasi cara-cara atau praktik-praktik yang dibentuk dan dibatasi oleh struktur sosial yang lebih luas (budaya, ekonomi, politik) dengan pertimbangan kemungkinan mereka dapat ikut campur untuk melepaskan diri dari belenggu tersebut. Jika tidak bisa ikut campur, maka paling tidak mereka dapat meminimalkan kendala yang membelenggunya dan berkontribusi terhadap penataan kehidupan sosial bersama. 


5. Penelitian tindakan partisipatoris sangat penting

Penelitian tindakan partisipatoris dikatakan sangat penting karena memiliki tujuan untuk membantu orang memulihkan atau melepaskan diri dari kendala yang tertanam dalam media sosial. Ini merupakan proses di mana individu atau kelompok berusaha memperbaiki kendala-kendala (ketidakrasionalan, ketidakefesienan, ketidakadilan, dan ketidakpuasan) dengan cara menafsirkan dan menggambarkan dunia mereka, misalnya melalui bahasa, cara kerja, dan cara berinteraksi dengan orang lain. 


6. Penelitian tindakan partisipatoris adalah refleksi 

Penelitian tindakan partisipatoris bertujuan membantu orang-orang untuk memahami kenyataan hidupnya untuk kemudian mengubah kenyataan tersebut melalui proses penyelidikan. Proses penyelidikan tersebut disengaja untuk mengubah praktik-praktik tindakan/interaksi mereka melalui siklus spiral refleksi dan kritis terhadap diri sendiri. 

7. Penelitian tindakan partisipatoris bertujuan mengubah teori dan praktik

Penelitian tindakan partisipatoris tidak menganggap suatu teori maupun praktik sebagai sesuatu yang unggul satu dengan yang lain. Namun, penelitian ini mencoba mengembangkan bentuk teori yang independen di luar praktik, jadi seolah-olah praktik dapat dikendalikan. Begitu pula sebaliknya, penelitian ini juga mencoba mengembangkan bentuk praktik yang memungkinkan seseorang dapat menilai dirinya, seolah-olah praktik bisa dinilai tanpa adanya kerangka kerja teoritis. 


Langkah-Langkah Penelitian Tindakan Partisipatoris 

Beberapa pakar penelitian tindakan partisipatoris umumnya menggunakan langkah-langkah urutan kerja yang berbentuk siklus spiral yang berkelanjutan. Namun, tidak dipungkiri kemungkinan adanya perbedaan penamaan/istilah yang digunakan dalam urutan langkah kerja tersebut antara satu negara dengan negara lain. Hal tersebut adalah sesuatu yang wajar jika tetap berada pada prinsip-prinsip dasar yang sama. Kemmis & Taggart (2007) menggambarkan urutan langkah-langkah penelitian ini sebagai siklus spiral refleksi yang berkelanjutan dengan langkah-langkah meliputi perencanaan, tindakan dan pengamatan, refleksi, perencanaan ulang, tindakan dan pengataman lagi, refleksi lagi dan seterusnya. 


Gambar Siklus Spiral Participatory Action Research (Kemmis & Taggart, 2007: 278)

Hanurawan (2012) menyatakan bahwa urutan pokok langkah-langkah penelitian tindakan partisipatoris adalah. 

1. Identifikasi Masalah 

Identifikasi masalah dilakukan melalui proses diskusi di mana kelompok partisipan penelitian dapat mengajukan beberapa masalah yang menjadi perhatian dan minat bersama. Langkah ini dilakukan secara bersama-sama antara peneliti dan kelompok partisipan sebagai suatu proses analisis kebutuhan akan perubahan dan pengembangan terkait masalah-masalah tersebut. 


2. Perencanaan Tindakan 


Perencanaan tindakan dilakukan oleh peneliti bersama kelompok partisipan sebagai suatu usaha untuk merancang suatu tindakan yang dapat memberikan perbaikan dan perubahan terhadap masalah-masalah mereka. 


3. Pelaksanaan Tindakan


Pelaksanaan tindakan merupakan langkah di mana suatu rencana perbaikan atau perubahan dapat diterapkan atau dilaksanakan. Dalam proses pelaksanaan ini, dilakukan suatu pengamatan terhadap proses dan hasil dari tindakan perbaikan atau perubahan tersebut. 


4. Refleksi dan Evaluasi Hasil Tindakan


Setelah diperoleh hasil pengamatan terhadap proses maupun hasil dari tindakan maka dilakukan refleksi guna melakukan suatu penilaian dan perencanaan ulang.



Gambar Langkah Pokok Penelitian Tindakan Partisipatoris, merujuk pada (Hanurawan, 2012)

Fungsi Penelitian Tindakan Partisipatoris

Dalam konteks hubungan antara penelitian tindakan partisipatoris dengan suatu pekerjaan sosial, seseorang akan memahami fungsi ganda penelitian ini. Bradbury & Reason (dalam Foeday, 2011) menyatakan bahwa penelitian tindakan partisipatoris memiliki fungsi sebagai upaya pemberdayaan para peserta penelitian (kelompok masyarakat) sehingga mereka dapat mengambil keputusan bersama-sama tentang kehidupan dan keadilan sosial. Dalam hal ini, suatu pekerjaan sosial memiliki tanggung jawab secara etis untuk ikut campur dalam menangani dinamika kehidupan sosial masyarakat terutama yang berkaitan dengan ketidakadilan sosial. Suatu pekerjaan sosial harus memberikan kontribusi pada pemberdayaan kelompok-kelompok masyarakat yang tertindas dan kemudian melibatkan kelompok masyarakat tersebut dalam proyek-proyek penelitian guna memberi perbaikan atau perubahan. Jadi, penelitian tindakan partisipatoris dikatakan memiliki fungsi ganda kerena di dalam penelitian ini terdapat proses pemberdayaan masyarakat dan juga proses pengabdian pekerja sosial kepada masyarakat. 


Kekuatan dan Kelemahan Penelitian Tindakan Partisipatoris 

Penelitian tindakan partisipatoris sebagai penelitian yang berupaya untuk melakukan perubahan tentunya banyak memiliki kekuatan sehingga patut untuk diaplikasikan dalam penelitian. Adapun kekuatan yang dimiliki penelitian tindakan partisipatoris (dalam Danley & Ellison, 1999; Foeday, 2011) adalah. 


1. Penelitian tindakan partisipatoris interaktif dan demokratis.

Dalam proses penelitian ini, peneliti dan kelompok masyarakat partisipan dianggap sebagai rekan. Peneliti dan kelompok partisipan berkolaborasi untuk menentukan cara efektif yang sesuai dengan nilai-nilai kerja sosial dan praktik sosial itu sendiri dalam mengatasi masalah-masalah sosial. 


2. Penelitian tindakan partisipatoris mengajarkan untuk saling menghormati dalam hal pengalaman dan keahlian.


Penelitian tindakan partisipatoris memiliki dua tokoh utama dalam proses penelitian yaitu partisipan dan para peneliti (profesional). Masing-masing tokoh tersebut memiliki kontribusi yang unik dan sama penting. Peneliti (profesional) menyumbangkan pengetahuan mereka untuk proses penelitian, sedangkan pertisipan mengungkapkan pemahaman dan pengalaman mereka yang unik terkait masalah-masalah yang ada. Dalam penelitian ini terjadi suasana saling hormat dan menjaga hubungan kerja antara peneliti dan partisipan karena salah satu tidak kurang penting daripada yang lain, dan tidak dapat saling menggantikan yang lain. 


3. Adanya rasa tanggung jawab bersama dalam penelitian tindakan partisipatoris


Dalam suatu pengambilan keputusan, penelitian tindakan partisipatoris selalu melibatkan seluruh pihak yang terlibat. Keterlibatan secara maksimal ini selalu meyiratkan rasa tanggung jawab bersama dalam memastikan proses berlangsungnya penelitian. 


4. Adanya semangat emansipatoris dalam penelitian tindakan partisipatoris


Penelitian ini merupakan penelitian yang berusaha untuk mendorong terciptanya suatu perbaikan atau perubahan kehidupan sosial masyarakat. Dalam hubungannya dengan partisipan/kelompok masyarakat, penelitian ini selalu memberi dorongan kepada para partisipan untuk mampu melakukan kontrol terhadap tindakan atau praktiknya sehingga terciptalah suatu perbaikan yang diharapkan.


5. Adanya pemberdayaan masyarakat yang bersifat reflektif


Penelitian ini dalam praktiknya selalu berusaha untuk mengikutsertakan kelompok masyarakat untuk kritis terhadap masalah-masalah sosial yang ada, kemudian secara bersama-sama membuat strategi perubahan. Keberhasilan dari rencana tersebut juga melibatkan masyarakat terutama dalam hal praktik-praktik/tindakan yang sesuai dengan perubahan itu sendiri. Dalam hal ini, kelompok masyarakat turut serta dalam merefleksikan hasil dari tindakannya tersebut, apakah sudah berkontribusi terhadap perubahan sosial atau belum. 


Selain memiliki kekuatan dalam praktik penelitian tindakan partisipatoris (dalam Danley & Ellison, 1999; Foeday, 2011) tentunya juga tidak lepas dari adanya kelemahan-kelemahan yang dimiliki, diantaranya. 


1. Ozanne & Saatcioglu (dalam Foeday, 2011) menyatakan bahwa penelitian tindakan partisipatoris dianggap gagal memasukkan kelompok-kelompok minoritas seperti wanita dalam budaya patriarkal tradisional. Kekhawatiran ini memang sangat disoroti dari sudut pandang kritis reflektif. 


2. Gray (dalam Foeday, 2011) menyatakan bahwa penelitian tindakan partisipatoris dianggap penelitian yang dapat menghabiskan waktu yang panjang. 


3. Gray (dalam Foeday, 2011) juga menyatakan bahwa hasil temuan penelitian tindakan partisipatoris dan jenis penelitian kualitatif lainnya sulit untuk digeneralisasikan mengingat ukuran sampel yang relatif kecil dengan keunikan masalah-masalah yang diteliti. 


4. Bradbury & Reason (dalam Foeday, 2011) menyatakan bahwa ketidakamanan dan ketidaksabaran serta pengalaman tentang proses penelitian tindakan partisipatoris dapat mengurangi keabsahan proses. Ketika orang merasa tidak aman dan tidak sabar dalam proses penelitian tindakan partisipatoris tentunya akan mempengaruhi partisipasi mereka dan tentunya juga akan mempengaruhi hasil studi penelitian ini. 


5. Adanya kemungkinan bahwa partisipan merahasiakan masalah jika anggota tim peneliti tidak memiliki akses data pada orang-orang tersebut (Danley & Ellison, 1999). 


6. Adanya ketakutan bahwa kekuatan kebersamaan antara peneliti dan partisipan dalam penelitian tindakan partisipatoris disalahgunakan untuk mengkompromikan kualitas program penelitian. Berdasarkan proyek penelitian tindakan partisipatoris, banyak ditemukan bahwa akhirnya hasil penelitian yang berupa publikasi pada jurnal profesional hanya sekadar untuk mempertahankan reputasi suatu organisasi (Danley & Ellison, 1999). 



Perbandingan Penelitian Tindakan Partisipatoris dengan Penelitian Tradisional (Konvensional) 

Perbandingan antara penelitian tindakan partisipatoris dengan penelitian tradisional (dalam Danley & Ellison, 1999; Foeday, 2011) adalah. 

1. - Penelitian tindakan partisipatoris mendukung kebenaran asumsi bahwa pengetahuan adalah relatif, tidak pasti, berkembang, kontekstual dan penuh nilai-nilai syarat.

- Penelitian tradisional justru cenderung memandang pengetahuan sebagai sesuatu yang pasti kebenarannya.


2. - Penelitian tindakan partisipatoris menekankan pada belajar dari dan belajar tentang subyek penelitian. 

- Penelitian tradisional menekankan pada belajar tentang subyek penelitian. 

3. - Pada penelitian tindakan partisipatoris, peneliti bertindak sebagai konsultan atau pendidik.

- Pada penelitian tradisional, peneliti bertindak sebagai peneliti profesional (ahli). 

4. - Pada penelitian tindakan partisipatoris, terdapat asumsi bahwa penelitian yang baik harus mempunyai masukan dari orang dalam yaitu orang-orang yang sedang diteliti. 


- Pada penelitian tradisional, terdapat asumsi bahwa penelitian terbaik adalah penelitian yang dilakukan oleh pihak luar. 

5. - Pada penelitian tindakan partisipatoris, subyek penelitian mempunyai peran ganda yaitu sebagai subyek dan peneliti. 

- Pada penelitian tradisional, subyek penelitian hanya mempunyai satu peran yaitu sebagai subyek penelitian saja. 


6. - Pada penelitian tindakan partisipatoris, subyek penelitian turut serta dalam konseptualisasi, desain, implementasi dan interpretasi dari penelitian.

- Pada penelitian tradisional, subyek hanya pasif sebagai objek penelitian, dan tidak berkontribusi pada proses penelitian. 

7. - Pada penelitian tindakan partisipatoris, subyek penelitian bertindak sebagai agen perubahan yaitu mengubah temuan awal penelitian ke dalam kebijakan, program, atau inisiatif baru penelitian. 

- Pada penelitian tradisional keterlibatan subyek penelitian berakhir ketika proses pengumpulan data selesai. 


8. - Paradigma penelitian tindakan partisipatoris sangat cocok untuk studi kualitatif, etnografi, dan studi tentang pengalaman yang menyimpang. 

- Paradigma penelitian tradisional sangat cocok untuk penelitian eksperimental. 

9. - Pada penelitian tindakan partisipatoris, agenda penelitian dibentuk langsung oleh para pendukung perubahan, termasuk kaum pengguna layanan atau jasa.

- Pada penelitian tradisional, agenda penelitian dibentuk oleh para profesional dan kaum sosial-politik. 


Penelitian Tindakan Kelas Sebagai Suatu Penelitian Tindakan Partisipatoris 

Dalam teori, penelitian tindakan partisipatoris, penelitian tindakan kristis, dan penelitian tindakan kelas dijelaskan sebagai bagian dari action research (penelitian tindakan). Dalam pelaksanaannya di lapangan, teori tersebut tidak sepenuhnya dilaksanakan dengan kaku (monoton). Kemmis & Taggart (2007:273) sendiri menyatakan bahwa penelitian tindakan kritis dan penelitian tindakan partisipatif dianggap sangat mewakili penelitian tindakan pendidikan. Pendapat itu muncul dari ketidakpuasan dengan penelitian tindakan kelas yang biasanya tidak mengambil pandangan yang luas tentang peran dan hubungan antara pendidikan dan perubahan sosial. Oleh karena itu, beberapa ahli seperti Creswell (2012: 582) menyimpulkan bahwa orang-orang memberi penamaan yang berbeda terhadap penelitian tindakan partisipatif, di antaranya mereka sering menyebutnya sebagai penelitian tindakan partisipatif dan penelitian tindakan kelas.

Jika merujuk pada beberapa teori dan kenyataan di lapangan yang telah dijelaskan oleh para ahli di atas, maka sebenarnya penelitian tindakan kelas (PTK) bisa saja merupakan suatu penelitian tindakan partisipatif jika guru turut berpartisipasi penuh dalam penelitiannya. Dalam hal ini, guru atau peneliti yang melaksanakan penelitian tindakan kelas harus benar-benar terjun di lapangan dan berbaur dengan para siswa (partisipan). Guru atau peneliti harus menciptakan suasana yang nyaman dan benar-benar natural sehingga tidak ada rasa canggung pada diri siswa (partisipan). 

Jika dikatakan PTK merupakan penelitian tindakan partisipatoris, maka tujuan dari PTK itu pun tidak hanya sekadar merefleksi praktik-praktik guru dalam mengajar, atau hanya sekadar untuk meningkatkan hasil dan proses pembelajaran. PTK yang bernuansa penelitian tindakan partisipatoris harus memiliki tujuan untuk merubah atau memperbaiki praktik-praktik dalam pendidikan yang kurang menguntungkan atau yang bermasalah. Bahkan pada tingkat yang ekstrem, PTK yang bernuansa penelitian tindakan partisipatoris harus mampu memberikan perubahan sosial pada masyarakat.



DAFTAR RUJUKAN

Baum, F, MacDougall. C. & Smith, D. 2006. Participatory Action Research. Adelaide: Department of Public Health, Flinders University. 

Creswell, J.W. 2012. Educational Research. United States of Amerika: Pearson Educational, Inc. 

Danley, K. & Ellison, M.L. 1999. A Handbook for Participatory Action Researchers. Boston: Center for Psychiatric Rehabilitation, Trustees of Boston University. 

Foeday, J.K. 2011. Understanding What Participatory Action Research (PAR) Is. (Online), (http://academia.edu), diakses 15 Maret 2014. 

Hanurawan, F. 2012. Metode Penelitian Kualitatif dalam Ilmu Psikologi. Surabaya: Universitas Airlangga.

Kemmis, S. & McTaggart, R. 2007. Participatory Action Research. Dalam Denzin N.K. & Lincoln Y.S. (Eds.), SAGE Handbook of qualitative research. Thousand Oaks, CA: Sage Publications.



Posting Komentar untuk "PENELITIAN TINDAKAN PARTISIPATORIS (PARTICIPATORY ACTION RESEARCH) "